Article

Pertahankan atau Cabut? Ini Fakta Menarik Seputar Gigi Gingsul

  • Home
  • -
  • Seputar Gigi
  • -
  • Pertahankan atau Cabut? Ini Fakta Menarik Seputar Gigi Gingsul
Pertahankan atau Cabut? Ini Fakta Menarik Seputar Gigi Gingsul

Pernahkah Anda mendengar istilah maloklusi gigi? Pasti Anda lebih familiar dengan gigi gingsul. Maloklusi gigi merupakan istilah medis dari keadaan posisi susunan gigi yang tidak teratur dan rapi. Sementara gingsul merupakan salah satu jenis maloklusi gigi. 

Pengertian gigi gingsul adalah sebuah kondisi di mana gigi tumbuh pada posisi tidak tepat, tidak sejajar, atau bertumpuk pada gigi yang lain. Kondisi macam ini biasanya terjadi pada gigi taring. Oleh karenanya, ada pula teori yang menyatakan bahwa gingsul adalah gigi taring yang terlambat tumbuh, sehingga lokasi tumbuhnya terdesak oleh gigi lain yang berdekatan. 

Fakta Unik Gigi Gingsul

Gigi Gingsul

Kata orang, wanita bergigi gingsul memiliki senyuman yang manis dan memikat. Gingsul sering disebut sebagai gigi pemanis, karena akan sedikit terlihat ketika pemiliknya melemparkan senyum. Selain menjadi pemanis senyum, ada lagi sejumlah fakta unik gigi gingsul yang tidak banyak diketahui. Apa saja?

1. Pemiliknya dinilai penuh percaya diri

Salah satu alasannya adalah karena mereka menerima dengan senang hati kondisi tidak normal pada giginya. Tanpa berkeinginan untuk mencabut atau memperbaikinya agar terlihat normal seperti gigi orang kebanyakan. 

2. Terjadi pada masa pertumbuhan

Mustahil orang dewasa tiba-tiba mengalami gingsul. Kondisi ini hanya bisa terjadi pada masa pergantian gigi susu ke gigi permanen, yakni sejak usia 5 – 6 tahun hingga usia belasan ketika semua gigi susu telah tergantikan. 

3. Disebabkan faktor keturunan

Kalau Anda bergigi gingsul, bisa jadi salah satu generasi penerus Anda nanti juga akan memiliki kondisi serupa. Jenis maloklusi gigi yang satu ini dinilai sering terjadi karena faktor genetik, seperti dikutip dari National Institutes of Health yang dilansir dari laman Halodoc.

Penyebab Gigi Gingsul

Contoh gigi gingsul
Contoh Gigi Gingsul

Sebenarnya bukan hanya gigi taring, semua gigi memiliki risiko yang sama untuk tumbuh bertumpuk. Namun, karena taring pada umumnya tumbuh paling terakhir, maka risikonya lebih besar. Lokasi tumbuhnya terlanjur ditempati oleh gigi lain, sehingga menumpuk pada gigi yang berkembang lebih dulu. 

Selain karena faktor genetik, seseorang bisa memiliki gigi gingsul karena sebab-sebab yang lain, di antaranya:

1. Ukuran rahang 

Perkembangan industri makanan olahan secara tidak langsung berperan pada perubahan fisik manusia. Dahulu kala nenek moyang kita terbiasa menyantap makanan yang membutuhkan waktu mengunyah lebih banyak. Namun, kini makanan olahan serba lunak, sehingga waktu mengunyah menjadi lebih singkat. 

Seperti dikutip dari Journal of Evolution, ternyata hal ini berdampak pada evolusi tulang rahang manusia masa kini yang cenderung lebih pendek. Ukuran rahang yang menyempit bisa menjadi salah satu penyebab gigi tumbuh tidak rapi.  

2. Kebiasaan buruk 

Kebiasaan buruk pada anak-anak yang seringkali menyebabkan gingsul, antara lain kegemaran mengisap jempol, serta penggunaan dot, empeng atau botol secara berlebihan dalam waktu lama. 

Hal itu bisa diperparah dengan kurangnya perhatian terhadap perawatan gigi. Gigi yang jarang mendapatkan perawatan bukan hanya akan tumbuh tidak rapi, tetapi juga rentan mengalami kerusakan.  

3. Malnutrisi

Gigi memerlukan asupan nutrisi yang cukup agar tumbuh dengan baik. Makanan mengandung kalsium, magnesium, serat, serta vitamin C dan D penting bagi kesehatan gigi. Asupan gizi yang buruk pada masa kanak-kanak dapat memicu perkembangan gigi. Berisiko menjadikan pertumbuhannya kurang maksimal, bahkan gingsul dan bengkok.  

Apakah Gigi Gingsul Perlu Dicabut?

Cabut Gigi

Gigi gingsul memberikan daya tarik tersendiri terhadap penampilan seseorang. Itu adalah pendapat sebagian orang. Di sisi lain, tidak sedikit pula orang yang merasa terganggu penampilannya karena memiliki gigi taringnya gingsul.

Terlepas dari soal penampilan, praktisi kesehatan lebih menyarankan kepada para pemilik gingsul agar mencari penanganan yang tepat. Mengapa? Karena kondisi tersebut bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: 

  • Gingsul pada taring gigi membuat proses menggigit atau mengunyah makanan menjadi tidak nyaman, bahkan berisiko melukai gusi dan dinding rongga mulut. 
  • Masalah kesulitan mengunyah dan menggigit makanan bisa memicu nyeri pada bagian tubuh yang lain, yakni sendi temporomandibular atau rahang, serta sakit kepala sebelah atau migrain. 
  • Gigi gingsul lebih sulit dibersihkan. Jadi, pemiliknya perlu lebih intensif melakukan perawatan gigi. Kalau tidak, giginya akan lebih cepat keropos dan mengalami kerusakan. 
  • Gigi tumbuh berhimpitan dan saling menekan, sehingga mudah tanggal. 
  • Penumpukan gigi berlebihan bisa mengakibatkan sleep apnea, yakni terhentinya napas selama beberapa saat ketika tidur. 
  • Sebagian orang dengan taring gingsul akan mengalami gangguan dalam mengucapkan huruf-huruf tertentu saat berbicara (cadel). 

Itulah beberapa masalah yang menjadi alasan dunia medis menyarankan agar gigi gingsul segera ditanggulangi. Apabila Anda mulai merasa tidak nyaman dengan gigi taring gingsul, maka segeralah berkonsultasi ke klinik gigi terdekat. 

Pengobatan Gigi Gingsul yang Buat Sakit! 

Dokter Gigi

Berikut beberapa jenis prosedur dalam penanganan gigi gingsul. 

1. Operasi Gigi

Merupakan cara paling ringkas untuk mengatasi gingsul. Spesialis ortodonti akan melakukan operasi kecil untuk mengubah struktur gigi guna menempatkan gingsul sejajar dengan barisan gigi yang ada. Bisa pula dengan cara mencabut gingsul jika kondisi tidak memungkinkan untuk menempatkannya dalam barisan. 

Selain dua metode tersebut, ada satu lagi jenis operasi yang lebih kompleks, yakni ortognatik atau prosedur merapikan rahang. Cara ini diperlukan pada pasien yang mengalami gangguan bicara atau kesulitan mengunyah makanan karena memiliki gingsul.

2. Aligner Gigi

Aligner merupakan prosedur merapikan gigi menggunakan alat penyangga berbahan plastik transparan dan cukup tipis, tetapi kuat untuk mempertahankan struktur gigi rapat dan rapi. Struktur dan ukuran aligner gigi dibuat berdasarkan susunan gigi pasien, sehingga harus terus diperbarui secara rutin. 

Pengguna aligner perlu memperhatikan pemakaiannya. Alat ini perlu dilepas saat akan menggosok gigi atau menyantap makanan, juga harus dibersihkan secara berkala.

3. Kawat gigi/behel

Prosedur terakhir adalah yang paling populer, yakni pemasangan kawat gigi atau behel. Metode satu ini memanfaatkan susunan braket dan kawat yang sama-sama terbuat dari logam untuk merapatkan dan menyejajarkan barisan gigi. 

Behel telah berkembang menjadi tren fashion tersendiri. Kalau dulunya begitu menonjol dan memengaruhi penampilan, kini telah ada metode pemasangan pada gigi bagian dalam, sehingga tidak tampak dari luar. Selain itu, braket gigi konvensional juga telah hadir dalam berbagai varian model behel yang menarik. 

Hanya saja, prosedur pemasangan kawat gigi masih memiliki efek samping yang cukup mengganggu. Salah satunya nyeri pada mulut akibat tekanan dan tarikan kawat pada gigi. Makin berantakan kondisi gigi, biasanya rasa sakit yang timbul akan semakin hebat, dan itu berlangsung selama beberapa hari. 

Efek samping lainnya adalah munculnya sariawan lebih sering dari biasanya, akibat gesekan kawat gigi dengan dinding rongga mulut. Lalu gigi berlubang, apabila pemilik kawat gigi kurang menjaga kebersihan dan perawatannya. 

Meski direkomendasikan, Anda bebas menentukan apakah perlu melepas gingsul atau tidak. Kalau tidak ada masalah dan Anda merasa nyaman dengan kondisi tersebut, silakan saja. Jika yang terjadi malah sebaliknya, maka silakan pilih metode penanganan gigi gingsul paling tepat buat Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published.